Pages

Friday, April 27, 2012


BATU EMPEDU



            Saluran empedu merupakan bagian dari sistem pencernaan manusia yang berfungsi untuk memekatkan, menyimpan, dan mengalirkan cairan empedu dari hati (liver) ke usus halus. Cairan empedu diproduksi oleh sel-sel hati (hepatosit) sebanyak 500-1500 ml per hari. Saluran empedu terdiri dari duktus biliaris, duktus hepatikus, kandung empedu, duktus sistikus, dan duktus koledokus. Di luar waktu makan, cairan empedu disimpan sementara didalam kandung empedu dan disini mengalami pemekatan sekitar 50%.

            Oleh karena kandung empedu adalah tempat penyimpanan dan pemekatan cairan empedu, maka pada organ ini sering dijumpai batu kandung empedu (cholelithiasis). Angka kejadian kolelitiasis adalah sekitar 20% pada orang dewasa. Dikenal 3 jenis batu yaitu batu kolesterol, batu pigmen (batu lumpur / kalsium bilirubinat), dan campuran. Meskipun batu saluran empedu terbanyak ditemukan di dalam kandung empedu, tetapi sepertiganya merupakan batu duktus koledokus. Batu di duktus koledokus kebanyakan juga berasal dari batu kandung empedu.

            Secara umum penyebab terjadinya batu empedu adalah infeksi, sumbatan, dan penjenuhan kolesterol. Infeksi yang terjadi dapat terjadi akibat kuman E. coli dan infestasi cacing Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica dan Ascaris lumbricoides. Beberapa faktor yang diduga juga bereperan yaitu faktor geografi, hemolisis, dan sirosis hepatis.

            Sebagian besar penderita batu kandung empedu adalah asimtomatik (tidak mengeluhkan adanya gejala). Keluhan yang ada mungkin berupa rasa tak nyaman (seperti: mual, kembung) di ulu hati yang kadang disertai intoleransi terhadap makan berlemak. Batu empedu biasanya diketahui secara kebetulan, sewaktu pemeriksaan ultrasonografi (USG) misalnya. Pada penderita yang mengalami gejala, keluhan utama adalah nyeri di daerah ulu hati atau di bagian perut di bawah lengkung iga kanan. Rasa nyeri dirasakan periodik (hilang-timbul). Penyebaran nyeri dapat ke punggung bagian tengah, puncak bahu, disertai mual dan muntah. Kira-kira seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri menghilang setelah makan antasida (obat sakit maag). Hal ini menyebabkan penderita lalai terhadap penyakitnya hingga suatu saat nyeri tersebut berulang dan semakin hebat.


Gambar: Anatomi Kandung Empedu (dengan batu didalamnya)


            Batu kandung empedu atau saluran empedu dapat menyebabkan infeksi ringan hingga berat. Selain itu batu tersebut dapat menyumbat aliran cairan empedu sehingga tubuh mengalami “keracunan” empedu (mata dan kulit menjadi kuning, air kencing berwarna seperti air teh). Pada infeksi dan “keracunan” empedu yang berat dapatmenyebabkan beberapa komplikasi yang pada akhirnya meningkatkan angka kematian.

            Selain pemeriksaan darah, sebagai penunjang dalam menegakkan diagnosis adalah dengan USG, Roegent (foto polos, ERCP, PTC), CT-scan, atau MRI.  

   Gambar: USG Kandung Empedu dengan batu didalamnya


           Terapi kolelitiasis dapat secara non bedah atau pembedahan. Penanggulangan non bedah yaitu lisis (peleburan) batu dengan obat-obatan, litotripsi (penghancuran batu) dengan ESWL (gelombang kejut), dan endoskopik. Sedangkan pembedahan dapat dilakukan secara konvensional ataupun laparoskopik.

Bedah laparoskopik (Laparoscopic surgery) adalah tindakan bedah minimal invasive yang pada hampir semua negara maju dan bahkan negara berkembang termasuk Indonesia (terutama di kota besar) digunakan sebagai standar operasi batu empedu. Bedah laparoskopik juga dikenal sebagai “patient’s friendly operation” (prosedur pembedahan yang disukai oleh pasien) oleh karena beberapa keunggulannya dibandingkan bedah konvensional, antara lain: rasa nyeri yang minimal, masa rawat lebih singkat, dan secara kosmetik lebih baik karena bekas sayatannya hampir tak terlihat (sayatan luka operasi hanya 5-10 mm). 

 
Gambar: Beda sayatan operasi pengangkatan kandung empedu (cholecystectomy)
secara laparoskopik dengan konvensional


 Di Jambi, bedah laparoskopik untuk operasi pengangkatan batu kantung empedu (cholecystectomy), pengangkatan radang usus buntu (appendectomy), dan pengangkatan kista indung telur (cystectomy) sudah dapat dilakukan di R.S. Dr. Bratanata Jambi sejak Desember 2008.                                 



            



No comments:

Post a Comment