Pages

Friday, June 8, 2012


APENDISITIS (Appendicitis)

            Apendiks (Appendix) = usus buntu/umbai cacing: merupakan ujung tertutup, sempit, seperti cacing (tabung) hingga beberapa  inchi saja ukuran panjangnya, melekat pada sekum/caecum (bagian pertama dari usus besar).




TERMINOLOGI
  • ·         Apendisitis (appendicitis) = radang usus buntu.
  • ·         Apendisitis Akut = radang usus buntu yang baru saja terjadi.
  • ·         Apendisitis Kronis = radang usus buntu berulang/kambuhan yang terjadi dalam kurun waktu lebih dari 2 minggu.
  • ·         Apendisitis Perforasi = radang usus buntu yang sudah lanjut, sehingga usus buntu busuk dan bocor, dengan disertai adanya nanah.

APA PENYEBAB APENDISITIS?

            Akibat adanya sumbatan/obstruksi rongga/lumen apendiks, sehingga berkembang biaknya bakteri (umumnya: E. coli) yang mengakibatkan peradangan/infeksi. Sumbatan dapat dikarenakan oleh tinja/feses yang keras (fecalith), biji-bijian, cacing, pembengkakkan kelenjar getah bening di sekitar apendiks, atau tumor (pada usia tua).

GEJALA  APENDISITIS?

  • ·         Gejala khas awal apendisitis umumnya adalah nyeri perut sebelah kanan bawah yang didahului dengan rasa tak nyaman di sekitar ulu hati
  • ·         Dapat disertai mual/muntah
  • ·         Dapat disertai BAB mencret
  • ·         Kadang-kadanf disertai demam ringan. Apabila disertai demam tinggi, perlu dicurigai telah mengalami apenditis perforasi
  • ·         Gejala apendisitis akut pada anak-anak cukup sulit untuk diketahui, sehingga sering kali terlambat ter-diagnosis

PEMERIKSAAN PENUNJANG?

            Pemeriksaan penunjang diagnostik diperlukan untuk menegakkan diagnostik, meskipun demikian pemeriksaan secara klinis dengan seksama oleh seorang dokter umumnya mempunyai akurasi lebih dari 80%, sehingga pemeriksaan penunjang belum tentu semuanya diperlukan.

  • ·         Laboratorium darah: umumnya ditemukan peningkatan kadar sel darah putih (lekosit) lebih dari 10.000/mm3. Kadar lekosit lebih dari 12.000/mm3 perlu dicurigai telah terjadi perforasi.
  • ·         USG: pemeriksaan ini mempunyai angka sensitifitas dan spesifisitas yang rendah terhadap deteksi apendisitis.
  • ·         Appendicogram: pemeriksaan X-Ray menggunakan kontras (Barium) ini mempunyai nilai penunjang diagnostik yang baik untuk mengetahui sumbatan pada apendiks.
  • ·         CT-Scan, MRCT-Scan

GEJALA PENYAKIT LAIN YANG MIRIP APENDISITIS?

  • Gejala penyakit lain yang mirip apendisitis, antara lain:
  • ·         Infeksi/batu saluran kemih
  • ·         Infeksi/batu kandung empedu
  • ·         Kista ovarium (indung telur)
  • ·         Pelvic Inflammatory Disease

TERAPI  APENDISITIS?

            Terapi terbaik apendisitis akut adalah operasi pengangkatan apendiks (appendectomy). Bila penderita tidak mau operasi, dapat diberikan antibiotika saja, akan tetapi kemungkinan mengalami kekambuhan (apendisitis kronis) sekitar 35%. Apenditis perforasi yang tidak dilakukan tindakan operasi, mempunyai komplikasi yang berat seperti peradangan rongga perut (peritonitis) hingga sepsis (kuman menyebar ke seluruh tubuh melaului aliran darah).

 


Gambar: Laparoscopic Appendectomy



            Operasi pengangkatan usus buntu (Appendectomy) dapat dengan tehnik konvensional atau secara laparoskopi (Laparoscopic Appendectomy). Keunggulan Laparoscopic Appendectomy antara lain: rasa nyeri pasca operasi lebih minimal, secara kosmetik lebih baik karena bekas luka sayatan operasi nyaris tidak tampak. Laparoscopic Appendectomy di Propinsi Jambi dapat dilakukan di RS Dr. Bratanata.

                       
Gambar: Bekas luka Apendektomi kovensional                   Gambar: Bekas luka Apendektomi laparoskopik


Tuesday, May 22, 2012


HEMORRHOID


Apakah Hemorrhoid itu?
            Hemorroid atau wasir atau ambeyen adalah pelebaran pembuluh darah balik (vena) di dalam pleksus hemorrhoidalis yang tidak merupakan kelainan patologis, hanya apabila ini menyebabkan keluhan atau penyulit diperlukan tindakan.
            Dari batasan tentang Hemorrhoid di atas, jelas bahwa tidak semua  penanganan Hemorrhoid memerlukan tindakan bedah/operasi.

        Gambar: Ilustrasi Hemoroid



Apa saja faktor resiko yang dapat menyebabkan Hemorrhoid?
  • Gangguan funsi usus halus, misal: diare, sulit buang air besar (BAB)/konstipasi
  • Gangguan pengosongan rektum (usus besar paling akhir, dekat anus)
  • Kehamilan dan melahirkan
  • Pemakaian obat-obat lokal, misal: enema (pencahar), supositoria (obat yang dimasukkan melalui anus), penggunaan laksan (pelancar BAB) yang berlebihan
  • Obat kontrasepsi oral (Pil KB)
  • Iritasi mukosa anal kanal (saluran anus)
  • Diet (konsumsi) makanan yang rendah serat
  • Konsumsi alkohol
 Apa saja gejala Hehorrhoid?
  • Nyeri, di dalam atau sekitar anus
  • Perdarahan, keluar darah segar atau menetes pada saat BAB
  • Prolaps Hemorrhoid, keluar benjolan dari dalam anus
  • Discharge/Mucus, keluar cairan berlendir dari anus
  • Pruritus, rasa gatal pada anus
Pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis Hemorrhoid?
    1. Terdapat mukus pada Hemorrhroid prolas (yang menonjol)
    2. Colok dubur (Digital Rectal Examination)
    3. Anuscopy
    4. Proctosigmoidoscopy

Gambar: Prolaps Hemorrhoid

Penyakit-penyakit lain yang gejalanya mirip dengan Hemorrhoid, antara lain adalah:
  • Karsinoma kolorektal (kanker usus besar)
  • Penyakit Divertikel
  • Prolaps rektum
  • Kolitis Ulserativa (tukak radang usus besar)
 Bagaimana terapi Hemorrhoid?
    1. Terapi konservatif. Terapi konservatif adalah terapi tanpa tindakan bedah, yaitu dengan obat-obatan. Namun demikian, untuk terapi ini hanya disarankan untuk penderita Hemorrhoid dengan gejala yang ringan hingga sedang. Terapi konservatif memerlukan waktu 3-6 minggu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Selain itu, terapi obat-obatan juga harus disertai dengan perubahan pola makan dan pola hidup sehat. Penderita dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung serat tinggi (sayuran) dan banyak minum air putih, pantang/kurangi makanan pedas, tidak mengkonsumsi alkohol, dan olah raga teratur.
    2. Skleroterapi
    3. Ligasi (pengikatan) dengan gelang karet (rubber band)
    4. Bedah beku
    5. Koaglasi infra merah
    6. Hemorrhoidectomy (pemotongan Hemorrhoid)

Sunday, May 20, 2012


TAHI LALAT : Perlukah diwaspadai?



            Tahi lalat / andeng-andeng (nevus pigmentosus) merupakan kelainan bawaan jinak pada kulit yang memperlihatkan kelebihan sel melanosit (pigmen/zat warna kulit). Dikenal tiga jenis nevus pigmentosus yaitu jenis junctional (perbatasan), intradermal, dan campuran. Pada jenis perbatasan, sel melanosit berada di lapisan basal atau di atasnya. Bentuknya rata, tidak menonjol, dan umumnya bersifat stasioner artinya tidak berkembang menuju keganasan (kanker). Pada jenis intradermal, sel melanosit berada di lapisan yang lebih dalam (dermis), menonjol, tumbuh menebal dan melebar walaupun sangat perlahan. Jenis campuran memperlihatkan sifat jenis perbatasan dan intradermal. Jenis ini berwarna paling gelap diantara ketiganya, mengkilap dan tumbuh perlahan-lahan.
            Sebagian dari nevus dapat berdegenerasi ganas menjadi melanoma malignum (salah satu jenis kanker kulit). Faktor yang merangsang degenerasi ialah iritasi kronik seperti tekanan, gesekan, dan sinar ultraviolet. Melanoma malignum berasal dari sel nevus dermoepitelial, baik yang berpigmen maupun yang tidak berwarna (amelanotik).


Gambar: Melanoma maligna

Gejala atau tanda yang patut dicurigai sebagai tanda keganasan suatu lesi berpigmen adalah perubahan warna seperti lebih terang atau lebih gelap, gatal, perubahan bentuk menjadi tidak teratur atau nevus bertambah luas serta bertambah tebal, pertumbuhan horizontal dan vertikal, permukaan tidak rata, dan akhirnya pembentukan tukak (ulkus/borok). Apabila menjadi mudah berdarah, hal ini menandakan proses sudah sangat lanjut.
 Gambar: Perubahan pada tahi lalat
yang perlu diwaspadai
           


            Melanoma ditemukan pada semua usia, mulai masa pubertas, dengan insidens tersering sekitar usia 40 tahun. Sering ditemukan pada penduduk daerah tropis. Separuh dari melanoma terdapat di telapak kaki yaitu pada pinggir dan lengkung telapak kaki pada orang yang biasa tidak beralas kaki, selebihnya dapat terjadi di seluruh permukaan kulit. Penyebabnya tidak diketahui dengan pasti, begitupun peran sinar ultraviolet matahari.
            Sel-sel tumor dapat menyebar melalui pembuluh darah dan pembuluh getah bening. Angka kesembuhan atau harapan hidup tergantung stadium penyakit. Jika tidak ada penyebaran, harapan hidup rata-rata selama 10 tahun berkisar antara 40-90%. Jika sudah ada penyebaran, usia harapan hidup menjadi lebih singkat.
            Terapi utama dari melanoma malignum adalah pembedahan (eksisi luas tumor). Terapi tambahan (ajuvan) dapat berupa pemberian obat sitostatika (yang menghambat pertumbuhan sel kanker) atau terapi imunologi dengan menggunakan vaksin BCG.

Monday, May 14, 2012


INFERTILITAS LAKI-LAKI

            Istilah infertilitas digunakan untuk pasangan laki dan perempuan yang tidak mampu mencapai pembuahan antara spermatozoa dan sel ovum. Pengertian infertilias berbeda dengan istilah ejakuasi dini/disfungsi ereksi. Meskipun demikian, disfungsi ereksi merupakan salah satu penyebab infertilitas. Beberapa literatur menulis diperkirakan 10% pasangan suami-istri mengalami infertilitas. 30% penyebab infertilitas berasal dari pihak laki-laki sepenuhnya, sedangkan yang berasal bersama dengan pihak perempuan sekitar 15%.
            Atas dasar tersebut di atas, maka apabila pasangan suami-istri mengalami infertilitas sebaiknya pemeriksaan/evaluasi bukan hanya dilakukan terhadap perempuan (istri) saja tetapi juga suaminya. Selain pemeriksaan fisik, perlu dilakukan pemeriksaan pasca senggama atau postcoital (PCT, PK, atau Hubner’s) test dan analisa mani (semen analysis). Pada pemeriksaan tersebut akan dinilai volume mani, kadar fruktosa, kepadatan dan jumlah spermatozoa, bentuk spermatozoa, dan motilitas (pergerakan spermatozoa). Selain itu dinilai pula kemampuan spermatozoa untuk menembus sel ovum. Hal ini penting karena kelainan kualitas dan atau kuantitas dapat menyebabkan tidak terjadinya pembuahan. Sebagai contoh: mani dianggap normal bila didapatkan 15 atau lebih spermatozoa aktif per lapangan pandang besar pada pemeriksaan dengan mikroskop, atau 40-100 juta spermatozoa per milimeter kubik. Nilai minimum yang masih dapat diterima adalah 20 juta spermatozoa per milimeter kubik.
            Bila jumlah spermatozoa kurang dari normal disebut oligospermia, bila tidak ada spermatozoa sama sekali disebut azoospermia, sedangkan bila bentuk spermatozoa tidak normal disebut teratospermia. Pada kasus tersebut perlu dilakukan biopsi testis (buah zakar) untuk melihat spermatogenesis (proses pembentukan spermatozoa) dalam tubulus seminiferus.

                                                                   
                                                                                  Gambar: Organ Reproduksi Pria

            Penyebab infertilitas pada laki-laki, antara lain:

  1. Disfungsi ereksi:
Dapat disebabkan kelainan organik dan psikologik. Penyebab organik dapat berupa gangguan peredaran darah penis, gangguan neurologik, kelaianan anatomi, dan penyakit umum seperti gagal ginjal kronik. Terapi ditujukan terhadap penyebab utamanya. Sedangkan bila tidak ditemukan penyebab organik, maka mungkin penyebabnya adalah gangguan psikologik. Atau mungkin juga didapatkan kedua penyebab secara bersamaan.

  1. Obstruksi (sumbatan) di saluran mani (epididimis atau duktus deferens) yang umumnya dapat disebabkan oleh infeksi seperti tuberkulosis.
  2. Ejakulasi retrograd:
Mani tidak menyemprot ke luar uretra tetapi masuk ke dalam kandung kemih (buli-buli). Ejakulasi retrograd ini kadang disebabkan oleh obat, misalnya fenotiazin dan klorpromazin. Pembedahan pada leher buli-buli misalnya operasi prostat, sering menimbulkan keluhan ini.

  1. Parotitis (gondongan).
Virus penyebab parotitis juga mengakibatkan radang testis, yang disebut orchitis, yang dapat menyebabkan gangguan spermatogenesis.
  1. Varikokel (varicocele):
                                                                              Gambar: Varicocele

Merupakan pelebaran pembuluh vena (aliran balik) pada testis dan epididimis. Oleh karena aliran balik darah yang tak lancar, maka jumlah dan kualitas sperma atau mani berkurang. Apabila dilakukan tindakan operatif berupa ligasi tinggi (high ligation / Palomo), pada umumnya jumlah dan kualitas sperma menjadi lebih baik.

            Dari hal penjelasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terapi infertilitas pada laki-laki dapat disebabkan berbagai macam faktor. Konsultasi kepada dokter merupakan langkah awal untuk mengevaluasi infertilitas. Terapinya dapat berupa terapi psikologis, medikamentosa (obat-obatan), pembedahan, atau pun kombinasi.

Monday, April 30, 2012


VARISES

            Varises/Varices (= varicose vein, = superficial venous insufficiency) adalah pemanjangan, pelebaran, dan berkelok-keloknya sistem pembuluh darah balik (vena) yang disertai gangguan sirkulasi darah didalamnya. Penyakit ini bukan hanya menimbulkan masalah kosmetik tetapi memang dapat menimbulkan masalah yang lebih serius.
Kelainan vena ini diakibatkan katup di sistem vena dangkal tidak memadai, maka tekanan hidrostatik akan meninggi sehingga terjadi pelebaran vena tersebut. Oleh karena tungkai bawah (kaki) adalah bagian tubuh yang paling besar menyangga tekanan hidrostasik, maka gangguan peredaran darah di vena tungkai paling sering terjadi.

          Faktor resiko:
  1. Riwayat varises dalam keluarga
  2. Wanita (pada usia dekade ke-3 dan 4; dijumpai 5-6 x lebih sering pada pria)
  3. Kehamilan lebih dari 2 kali
  4. Pengguna pil atau suntikan hormon kontrasepsi
  5. Terbiasa posisi berdiri tegak selama lebih dari 6 jam sehari
  6. Kegemukan (obesitas).

Varises lebih sering dijumpai dan berkembang menjadi lebih banyak jumlahnya pada usia lebih tua. Sangat jarang pada usia kanak-kanak.
          Keluhan awal paling sering ditemukan pada penderita varises adalah rasa gatal dan bengkak (rasa berat) pada tungkai bawah (betis), terutama setelah berdiri lama ataududuk terlalu lama. Keluhan akan berkurang bila penderita berbaring dengan posisi kaki ditinggikan. Akan tetapi keluhan yang lebih sering membawa penderita ke dokter adalah kosmetik, karena tampak pelebaran vena di tungkai bawah.

Gambar: Vena Normal dan Vena Varices


Stadium klinis varises:


   Stadium                        Gambaran klinik


                  I                 Keluhan samar tidak khas (rasa gatal, pegal)
                  II               Pelebaran vena
                  III              Varises tampak jelas
                  IV              Kelainan kulit dan/atau tukak karena sindroma
                                    insufisiensi vena menahun/kronis


           Kebanyakan terapi varises dilakukan atas indikasi kosmetik. Dan pada umumnya penderita dapat diobati secara konservatif. Bila terapi konservatif gagal atau terjadi komplikasi seperti dermatitis, perdarahan, thrombosis, atau tukak vena dangkal, maka terapi harus lebih agresif. Terapi konservatif yaitu Terapi Kompresi berupa penggunaan elastic stocking (kaus kaki khusus). Kaus kaki khusus yaitu yang dibuat menurut ukuran lingkaran tungkai penderita. Penderita harus berjalan setiap hari. Pembalut atau kaus kaki tidak boleh dibuka, kecuali bila penderita mandi, baring tidur, dan harus diganti bila daya elastisitasnya berkurang.



Gambar: Stocking Varices

Terapi lainnya adalah terapi suntikan sklerosis (Injection Sclerotherapy) dapat diberikan pada varises kecil yang terbatas. Obat sclerosing agent dengan konsentrasi 0,5%, 1% atau 3% (polidocanol; Na tetradecyl sulphate) disuntikkan ke dalam pembuluh vena. Pasca penyuntikan dipasang pembalut elastis (elastic bandage) selama 3-6 minggu. Penderita harus jalan setiap hari sekurang-kurangnya selama 1 jam.



Gambar: Sclerotherapy Varices

Terapi pembedahan yaitu dengan cara ligasi (pengikatan) dan eksisi (pengangkatan) vena yang mengalami varises. Selain itu dapat juga dengan cara Stripping untuk membuang seluruh vena dangkal pada tungkai.




Gambar: Stripping Varices

Friday, April 27, 2012


BATU EMPEDU



            Saluran empedu merupakan bagian dari sistem pencernaan manusia yang berfungsi untuk memekatkan, menyimpan, dan mengalirkan cairan empedu dari hati (liver) ke usus halus. Cairan empedu diproduksi oleh sel-sel hati (hepatosit) sebanyak 500-1500 ml per hari. Saluran empedu terdiri dari duktus biliaris, duktus hepatikus, kandung empedu, duktus sistikus, dan duktus koledokus. Di luar waktu makan, cairan empedu disimpan sementara didalam kandung empedu dan disini mengalami pemekatan sekitar 50%.

            Oleh karena kandung empedu adalah tempat penyimpanan dan pemekatan cairan empedu, maka pada organ ini sering dijumpai batu kandung empedu (cholelithiasis). Angka kejadian kolelitiasis adalah sekitar 20% pada orang dewasa. Dikenal 3 jenis batu yaitu batu kolesterol, batu pigmen (batu lumpur / kalsium bilirubinat), dan campuran. Meskipun batu saluran empedu terbanyak ditemukan di dalam kandung empedu, tetapi sepertiganya merupakan batu duktus koledokus. Batu di duktus koledokus kebanyakan juga berasal dari batu kandung empedu.

            Secara umum penyebab terjadinya batu empedu adalah infeksi, sumbatan, dan penjenuhan kolesterol. Infeksi yang terjadi dapat terjadi akibat kuman E. coli dan infestasi cacing Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica dan Ascaris lumbricoides. Beberapa faktor yang diduga juga bereperan yaitu faktor geografi, hemolisis, dan sirosis hepatis.

            Sebagian besar penderita batu kandung empedu adalah asimtomatik (tidak mengeluhkan adanya gejala). Keluhan yang ada mungkin berupa rasa tak nyaman (seperti: mual, kembung) di ulu hati yang kadang disertai intoleransi terhadap makan berlemak. Batu empedu biasanya diketahui secara kebetulan, sewaktu pemeriksaan ultrasonografi (USG) misalnya. Pada penderita yang mengalami gejala, keluhan utama adalah nyeri di daerah ulu hati atau di bagian perut di bawah lengkung iga kanan. Rasa nyeri dirasakan periodik (hilang-timbul). Penyebaran nyeri dapat ke punggung bagian tengah, puncak bahu, disertai mual dan muntah. Kira-kira seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri menghilang setelah makan antasida (obat sakit maag). Hal ini menyebabkan penderita lalai terhadap penyakitnya hingga suatu saat nyeri tersebut berulang dan semakin hebat.


Gambar: Anatomi Kandung Empedu (dengan batu didalamnya)


            Batu kandung empedu atau saluran empedu dapat menyebabkan infeksi ringan hingga berat. Selain itu batu tersebut dapat menyumbat aliran cairan empedu sehingga tubuh mengalami “keracunan” empedu (mata dan kulit menjadi kuning, air kencing berwarna seperti air teh). Pada infeksi dan “keracunan” empedu yang berat dapatmenyebabkan beberapa komplikasi yang pada akhirnya meningkatkan angka kematian.

            Selain pemeriksaan darah, sebagai penunjang dalam menegakkan diagnosis adalah dengan USG, Roegent (foto polos, ERCP, PTC), CT-scan, atau MRI.  

   Gambar: USG Kandung Empedu dengan batu didalamnya


           Terapi kolelitiasis dapat secara non bedah atau pembedahan. Penanggulangan non bedah yaitu lisis (peleburan) batu dengan obat-obatan, litotripsi (penghancuran batu) dengan ESWL (gelombang kejut), dan endoskopik. Sedangkan pembedahan dapat dilakukan secara konvensional ataupun laparoskopik.

Bedah laparoskopik (Laparoscopic surgery) adalah tindakan bedah minimal invasive yang pada hampir semua negara maju dan bahkan negara berkembang termasuk Indonesia (terutama di kota besar) digunakan sebagai standar operasi batu empedu. Bedah laparoskopik juga dikenal sebagai “patient’s friendly operation” (prosedur pembedahan yang disukai oleh pasien) oleh karena beberapa keunggulannya dibandingkan bedah konvensional, antara lain: rasa nyeri yang minimal, masa rawat lebih singkat, dan secara kosmetik lebih baik karena bekas sayatannya hampir tak terlihat (sayatan luka operasi hanya 5-10 mm). 

 
Gambar: Beda sayatan operasi pengangkatan kandung empedu (cholecystectomy)
secara laparoskopik dengan konvensional


 Di Jambi, bedah laparoskopik untuk operasi pengangkatan batu kantung empedu (cholecystectomy), pengangkatan radang usus buntu (appendectomy), dan pengangkatan kista indung telur (cystectomy) sudah dapat dilakukan di R.S. Dr. Bratanata Jambi sejak Desember 2008.                                 



            



Friday, April 20, 2012


TUMOR JINAK PAYUDARA


            Benjolan (tumor) pada payudara perempuan bukanlah hanya merupakan tumor ganas (kanker) saja, akan tetapi dapat berupa tumor jinak atau akibat infeksi atau dapat juga karena kelainan pertumbuhan.

          


                                                            Gambar: Anatomi Payudara


            Beberapa jenis tumor jinak payudara yang sering dijumpai adalah:

1.  Kelainan Fibrokistik.
            Kelainan fibrokistik ini disebut juga mastitis kronik kistik, hiperplasia kistik, mastopatia kistik, displasia payudara, dan banyak nama lainnya. Kelainan ini dapat dijumpai pada perempuan usia 30-50 tahun, tersering pada usia 40-an. Kelompok penyakit ini sering mengganggu ketentraman penderita karena kecemasan akan keluhan nyerinya. Selain nyeri, sering disertai adanya benjolan pipih yang tidak jelas batasnya. Rasa nyeri semakin terasa terutama pada saat menjelang menstruasi.
            Beberapa bentuk kelainan fibrokistik mengandung risiko untuk berkembang menjadi kanker payudara, tetapi umumnya tidak demikian. Bila ada keraguan, terutama bila pada benjolan tersebut teraba bagian yang kepadatannya berbeda, perlu dilakukan biopsi (operasi pengangkatan seluruh atau hanya sebagian benjolan). Nyeri yang hebat dan berulang atau penderita khawatir, dapat pula menjadi indikasi operasi untuk memastikan diagnosis.

2. Fibroadenoma mammae (FAM)
            Fibroadenoma merupakan tumor jinak yang terutama terdapat pada wanita muda usia 10-40 tahun, tersering usia 20-an. Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau berbenjol-benjol dan konsistensinya kenyal. Tumor ini tidak melekat ke jaringan sekitarnya dan amat mudah digerakkan kesana-kemari. Biasanya tidak nyeri, tetapi kadang dirasakan nyeri bila ditekan. Kadang-kadang fibroadenoma tumbuh multipel (di banyak tempat). Pada masa pubertas bisa terdapat dalam ukuran besar. Pertumbuhan tumor ini bisa cepat sekali selama kehamilan dan laktasi atau menjelang menopause, saat rangsangan hormon estrogen meninggi.

            Fibroadenoma harus dilakukan operasi pengangkatan tumor (ekstirpasi) karena tumor jinak ini akan terus membesar.




                                        Gambar: Berbagai macam tumor payudara dan lokasinya


3. Tumor Filoides (sistosarkoma filoides)
            Tumor ini bisa didapat pada semua usia, tetapi umumnya pada usia sekitar 45 tahun. Tumor filoides merupakan tumor jinak yang bersifat infiltratif (menyusup) secara lokal dan mungkin ganas (10-15%). Pertumbuhannya cepat dan dapat ditemukan dalam ukuran yang besar.
Penanggulangannya adalah eksisi luas (membuang seluruh massa tumor dan jaringan sehat disekitarnya). Jika tumornya besar biasanya perlu dilakukan mastektomi simpel (pengangkatan jaringan payudara yang terkena). Bila tumor ternyata ganas harus dilakukan mastektomi radikal (pengangkatan jaringan payudara yang terkena dan kelenjar gejah bening ketiak).


4. Papiloma intraduktus
            Tumor jinak ini berasal dari duktus laktiferus (saluran kelenjar susu/payudara) dan 75% tumbuh dibawah puting susu. Gejala khasnya adalah keluar sekret/cairan berdarah dari puting susu. Pada 30% kasus disertai benjolan kecil diameter 3-4 mm yang teraba dibawah puting susu. Sekret berdarah yang keluar dari putting susu juga dapat merupakan salah satu tanda keganasan, oleh karena itu sangat disarankan agar segera memeriksakan diri ke dokter bila menjumpai gejala ini.

Kelainan pertumbuhan payudara pada wanita umumnya berupa hipertrofi atau makromastia jarang disebabkan oleh kelainan hormonal tetapi sering karena obesitas. Payudara terasa berat dengan nyeri yang menjalar ke bahu, leher, dan punggung, terutama sebelum menstruasi. Puting susu turun karena kulit, lemak dan parenkimnya bertambah. Dalam mendiagnosis makromastia harus disingkirkan dulu kemungkinan kanker payudara. Terapinya adalah mastoplastik berupa operasi reduksi (mengurangi massa) payudara. Hipertrofi (pembesaran) kelenjar payudara dapat juga terjadi pada laki-laki yang disebut ginekomastia. Hipertrofi ini pada masa remaja sering ditemukan berupa cakram yang nyeri dibawah puting susu sebesar 2-3 cm, biasanya bilateral. Jika kelainan ini mengganggu, termasuk secara kosmetik, dianjurkan untuk dilakukan operasi ablasi subkutan.
Kelainan atau benjolan payudara lainnya selain kanker pada wanita dapat berupa kista retensi berisi air susu yang disebut galaktokel. Umumnya terjadi pada wanita menyusui, saluran kelenjar susu tersumbat sehingga kelenjar susu membesar. Kadang timbul infeksi di dalam kista tersebut. Pada minggu-minggu pertama menyusui dapat terjadi infeksi payudara oleh kuman stafilokokus atau streptokokus yang disebut mastitis puerperalis akut. Infeksi ini dapat berkembang menjadi abses yang disertai demam. Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan putting dan jika ada luka cepat diobati. Bila produksi susu berlebihan sebaiknya dilakukan pengisapan air susu dengan pengisap khusus.
Meskipun jarang, kelenjar payudara dapat terinfeksi oleh kuman tuberkulosis (tbc)  yang disebut mastitis tuberkulosa. Mastitis spesifik ini menyebabkan abses dingin yang tidak begitu nyeri. Mastitis tuberkulosa gambarannya mirip dengan kanker payudara. Diagnosis dipastikan dengan pemeriksaan dan pembiakan nanah, dan pemeriksaan histologi biopsi. Pengobatan dengan obat-obat tuberkulostatik.